Cerita Masa Kecil yang Kubenci dan Kini Aku Rindu

Sekolah Dasar (SD). Sebuah sekolah dengan jenjang paling rendah setelah Taman Kanak-kanak (TK). Di sinilah dimulainya sebuah keseriusan dalam berpikir. Jika dulu di TK hanya berisikan main-main, SD adalah moment awal otakmu digodog.


Kau mengenal pelajaran matematika, pelajaran IPA IPS, Bahasa Arab, Bahasa Inggris, dan beberapa pelajaran nasional serta muatan lokal lainnya diperkenalkan di sini. Kegiatanmu tak lagi seputar bermain ayunan, jungkit-jungkitan, prosotan, bernyanyi, tepuk tangan, serta kegiatan pembangkit sel saraf motorik lagi.

Jangan lupakan satu hal. Di Sekolah Dasar inilah seseorang mungkin sudah bisa mengenal manisnya cinta. Lucu, kan?


Cinta Monyet - Awal Sebuah Kedunguan

Aku ingat! Dulu pernah mencintai seseorang. Tanda kutip, cinta monyet tentunya. Anak itu berpostur tinggi, kulitnya bersih, juga menjadi idaman satu kelas, termasuk aku. Hahahaaa ....

Cerita Masa Kecil yang Kubenci dan Kini Aku Rindu

Caper. Masih SD udah caper. Aku selalu ingin tampil menarik di depannya. Pokoknya harus seperfect mungkin. Bukan hanya penampilan, dong! Nilai akademisku juga harus bagus.

Aku bukan tergolong anak terbodoh di kelas. Meski bukan rangking satu, bertengger di tiga besar sudah menjadi sebuah kebiasaan. Belajar dan terus belajar. Apalagi kalau nilainya bagus, bisa buat ajang pamer. Ke dia, contohnya.

Ketawa saja kalau mau ketawa. Muntah saja kalau mau muntah. Nggak ada yang larang. Dari kecil ternyata aku sudah punya bakat pamer.


Sudah Sakit-Sakitan dari Kecil

Oh, iya. Kali ini bukan tentang cinta monyet, melainkan keadaan kesehatanku. Aku tidak bisa dikatakan 'baik-baik saja' sejak kecil. Badanku ringkih. Aku sakit-sakitan.

Dalam seminggu, aku bisa 3 hari tidak masuk sekolah. Pokoknya pasti ada hari di mana aku sakit dan nggak sekolah. Rasanya nggak pernah full seminggu aku hadir untuk menuntut ilmu. Dan ini yang membuatku dimanja oleh kedua orang tua.

Jangan tanya tentang nafsu makanku. Kalau menunya nggak enak ya nggak makan. Kalau nggak disuapi, ya nggak makan. Kalau nggak dipaksa, ya nggak makan. Itulah aku!

Teringan ibu yang selalu memasakkan makanan khusus untukku. Jika kakak-kakakku makan ikan laut, tahu, tempe, sayur seadanya, beda denganku. Menu makanku daging sapi, ayam, jaroan, pokoknya yang enak-enak, deh.

"Ma, minta lauknya adek. Sedikiiiit saja."

Itu celotehan kakak keduaku. Sepertinya dia iri meliahatku dimanja begini. Tapi ya mau bagaimana lagi, kalau bukan dengan cara ini, makanan sama sekali tidak masuk ke perutku.

Apa kalian pikir aku menikmatinya? Apa kalian kira aku mengambil kesempatan ini untuk bermanja-manja ria?

No no no! Aku sama sekali tidak nyaman. Orang tuaku over protective. Aku nggak boleh makan ini itu, nggak boleh main ini itu, dan semua serba dibatasi.


Pernah suatu ketika, kedua kakakku izin ke tengah laut untuk cari keong dan beberapa hewan laut lainnya, saat itu laut surut. Jadi, banyak orang pantai yang sengaja memanfaatkan moment ini untuk refreshing ke laut. Lumayan, pulangnya bisa bawa beberapa hasil laut.

Oh iya, sekadar info. Rumahku dekat laut. Begitu pintu rumah dibuka, pemandangan pantai sudah tersaji sempura. Benar-benar kenikmatan yang tiada tara bagi orang yang tinggal di persawahan, yang jarang ketemu lautan.

Kembali ke kakakku tadi. Dengan mudah ibuku mengizinkan. Namun, ketika aku izin untuk ikut mereka, beliau melarangnya.

"Kamu di rumah saja. Nanti capek. Besok ibu belikan kerang dan keong sendiri ke pasar."

Selalu seperti itu. Serba dibatasi. Padahal bukan masalah hasil lautnya. Aku hanya ingin melihat pemandangan dan asyiknya bercanda dengan saudara.

Kalian tahu, apa yang kulakukan sebagai wujud demo ke orang tuaku? Aku mengurung diri di kamar, menangis dan teriak mau bunuh diri. Tapi sayang, mereka sama sekali tidak berniat untuk mengubah keputusannya.

Mungkin nyawaku tidaklah berharga buat mereka. Atau mungkin karena mereka tahu jika tidak mungkin aku berani mengakhiri hidupku. Dasar, Anak kecil! Dikit-dikit pikirannya mau bunuh diri.

Bukan hanya pernah ingin bunuh diri. Aku juga pernah berpikiran untuk lari dari rumah. Dikekang itu sangat tidak enak. Aku mengemasi pakaianku dan memasukkan ke tas ransel yang biasa kubawa sekolah.

"Terus nanti malam aku tidur di mana? Besok jajan pakai apa?" Pertanyaan-pertanyaan itu menggangguku. Hingga kuurungkan niatku untuk minggat.

Ibu yang melihatku kembali ke rumah padahal belum juga dapat 10 menit langsung bertanya, "Kok minggatnya nggak jadi?"

Ngeselin banget, kan? Anaknya balik pulang, nggak disambut malah digituin.


Nyantri Sehari? Siapa Lagi Kalau Bukan Shalys Chan?!

Karena muak dengan kekangan, kelas 4 MI aku mengutarakan inginku untuk mondok/nyantri. Nggak jauh-jauh. Cuma di desa tetangga.

"Ini kan liburan sekolah. Santrinya juga pada libur. Sepi di sana," ucap ayah yang sedikit menyadarkanku.

"Pokoknya aku mau mondok sekarang! Sepi nggak apa-apa. Aku berani, kok." Bukan Shalys namanya kalau bukan membantah.

Besoknya ayah mengantarku ke pesantren tersebut. Dan benar. Sepi. Cuma ada beberapa santri khuffadz (Penghafal Al-Qur'an) dan para pengurus.

"Udah lihat sendiri, kan? Gimana? Mau pulang bareng Ayah?"

Karena pantang untuk menarik ucapan, akhirny aku jawab, "Tidak."

Ayah pun pulang dan meninggalkanku di pesantren. Ruangannya cukup nyaman, lebar, dan yang pasti, tidak ada mereka, Ayah Ibu.

"Hai, anak baru, ya?" sapa seseorang yang umurnya seantaran denganku.

"Iya. Baru datang tadi," jawabku.

Setelah beberapa menit kami ngobrol, aku jadi tahu namanya. Rahma! Namanya Rahma.

"Kok kamu nggak pulang? Ini kan hari libur," tanyaku pada Rahma.

"Semua keluargaku di Malaysia. Aku nggak ada keluarga di sini. Jadi ya terpaksa musim liburan tetap di sini."

Aku hanya bisa manggut-manggut mendengar penuturan Rahma. Ada sedikit rasa bahagia menyambar dada. Aku masih punya keluarga utuh, rentunya yang sangat mencintai dan memperhatikanku.

Ayah ... Ibu, aku kangen kalian.

Ah, dasar! Baru ditinggal beberapa menit udah kangen.

Aku bermain bersamanya. Tak lama, ada Mbak Pengurus yang tak kutahu namanya memanggil kami.

"Dek, bisa belikan kami rujak?"

Rahma mengiyakannya, dan dia pun mengajakku.

"Kok kamu mau, sih?"

" Nggak apa-apa. Mereka kan senior kita."

Kalau Rahma sudah bilang begitu, aku bisa apa? Aku pun nurut dan mengikuti Rahma. Hal tersebut tidak hanya terjadi sekali. Sorenya juga begitu. Entah disuruh apa, ada aja perintah dari mbak-mbak itu.

Dan hal tersebutlah yang membuatku kangen rumah. Di rumah, aku diperlakukan bagai ratu. Tidak pernah disuruh, bahkan malah dilayani. Aku tersadar, orang tuaku ternyata sangat mencintaiku. Terlalu mencintaiku, malahan.

Besok paginya aku bilang ke Rahma untuk mengantarku pulang mengambil sesuatu, dan ia pun mau.

"Shalys?" Ibuku terkejut melihatku pulang. Aku langsung memeluknya dan menangis.

"Buuu, aku nggak mau balik. Aku mau di rumah saja. Di sana nggak enak."

Dengan sedikit senyum jahil, ibu menjawab, "Lho, katanya nggak suka di rumah. Mana ada mondok cuma semalam."

"Pokoknya aku mau di rumah!"

Alhasil, aku pun nggak balik ke pesantren. Rahma diantar Ayah ke pesantren sendirian. Aku di sana belum daftar, cuma coba-coba. Jadi ya bisa lebih mudah untuk pulangnya.

Itulah sekelumit cerita masa-masa kecilku. Akulah anak manja itu. Tumbuh dari keluarga yang penuh cinta. Tapi aku tidak bisa melihatnya.

Ketidak adilan selalu kurasakan. Padahal, ayah ibu memperlakukanku juga demi kebaikanku. Andai aku tumbuh dengan kesehatan normal seperti anak lainnya, mungkin aku juga akan diperlakukan layaknya anak-anak normal yang lain.

Untuk saat ini, aku sangat rindu pelukan mereka. Tapi, mengingat umur yang tak lagi kecil, rasanya aneh jika tiba-tiba aku memeluk mereka. Bukan menangkap sinyal kerinduan, nanti bisa-bisa malah disangka tingkah konyolku ini adalah wujud dari salam perpisahan.

Yaaaa ... kalian tahu sendiri, lha, orang sebelum meninggal kan ada aja tinggkah di luar kebiasaannya.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama